Kamis, 26 Mei 2011

Medan-Toba, April 2011

Kesampaian juga akhirnya...setelah booking pesawat berbulan-bulan sebelumnya (promo airasia :)), akhirnya kita sekeluarga pergi juga ke Medan.
Sebetulnya agak ragu juga awalnya, karena Medan bukan destinasi favorit untuk berwisata... (cuma karena penasaran pengen liat Danau Toba), ditambah promo tiket airasia, ya ok lahhh.... awalnya sih sempet mau beli tiket ke Bali aja (againnn.. :D), tapi mikir juga, karena udah beberapa kali pergi ke Bali, kenapa ga coba tempat yang beda aja..yang belum pernah dikunjungi sebelumnya....


so, here we go....


April 21st,2011

Bangun subuh, siap-siap soalnya dapet flight pagi, jam 06.05 berangkat dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung.
Repotnya di sini, karena kita berangkat sama anak-anak, salah satunya masih balita, takutnya anak-anak pada susah bangun. Tapi ternyata anak-anak sih gampang banget dibangunin, karena udah terlalu excited mau liburan kali yaaa... Kalau mommy-nya sih jangan ditanya, kayanya cuma sempet tidur 2-3 jam kali, soalnya malem sebelumnya kan mesti packing barang..(biasa deh,,, suka mepet-mepet packingnya,, kebiasaan buruk, jangan ditiru)
Berangkat ke Bandara sekitar jam 4.15, sampe di Bandara masih kepagian, tapi udah bisa check-in sihhh... Suamiku malah sempet nonton dulu pertandingan bola Real Madrid vs Barcelona di Bandara.

Ternyata pesawatnya delay pula, pertama karena cuaca masih berkabut karena abis turun hujan, terus setelah boarding pun kita masih nge-tem di dalam pesawat 1 - 1,5 jam, karena ada something wrong (ga tau apaan) di cockpit. Yang aku tau sih orang pada bolak-balik masuk keluar cockpit ngebetulin entah apa. Tapi ga apa-apalah, safety first kan?? :)

Kita sampai di Bandara Polonia, Medan, sekitar jam 10 pagi. Setelah ambil bagasi langsung berangkat menuju Parapat. Untuk perjalanan Medan -Parapat - Medan, kita sewa mobil ke rental berikut drivernya.

Sebelum jalan jauh, cari makan dulu dong... (karena kita blank beneran soal tempat makan di Medan, maka sepenuhnya si driver yang memutuskan kita mau makan di mana :D). 
Si Driver, namanya Pa Effendi, pilihin RM. Garuda (masakan khas Minang) buat makan siang kita. Tapi memang sih, di antara semua RM khas Minang yang pernah aku coba di tanah Jawa (cieee... gayanya...), RM Padang ini emang yang paling oke.. Ga tau emang karena lagi lapar, atau terbawa suasana mentang-mentang lagi di Sumatra, ga tau emang kokinya yang masih native :D)
Sebelumnya aku pernah juga makan makanan Padang di Batam, depan Hotel Novotel tempat aku nginep dulu, rumah makan kecil sih, ga terkenal juga namanya, tapi rasanya enak banget. Kayanya sih emang pengaruh lokasi juga ya?? 


rakus banget makannya ya???



Habis makan siang, lanjutin lagi perjalanan. Ternyata Medan - Parapat itu jauh juga lohhh, sekitar 4-5 jam perjalanan. Kita jalan lewat Pematang Siantar, katanya lewat jalur itu masih lebih cepet nyampe daripada lewat Brastagi. Jadi, untuk pergi diputuskan lewat Pematang Siantar, untuk pulangnya kita bakal lewat Brastagi.


Sepanjang perjalanan sih biasa-biasa aja, ga ada yang terlalu menarik, apalagi aku diserang migrain dari Medan sampai ke Parapat. Karena semalam tidur cuma 3 jam, ditambah AC di kabin pesawat yang dinginnya luar biasa. Sukses deh migrainnya berkuasa. 


Yang bikin nyesel sih, pas lewat Pematang Siantar, banyak tukang Mie Siantar di jalan yang kita lewatin, tapi kita ga sempet mampir. Pertama karena anak-anak pada tidur pules, kecapean, terus emang ngantuk juga soalnya bangun pagi buta. Terus ditambah migrain yang menggila,,, boro-boro kepengen makan deh... Terus emang belum ngerasa laper juga, soalnya baru makan di RM Garuda. Jadilah kita bablas melewati Pematang Siantar... padahal kalau di Bandung sering juga kita makan Mie Siantar. Pas giliran di Pematang Siantar malah ga nyoba makan mie-nya...


Yang bikin takjub, sepanjang jalan kita lihat gereja bertebaran dimana-mana. Dari mulai yang sangat sederhana (cuma bata merah tanpa plesteran apalagi cat), sampai yang cukup megah bangunannya. Dan jumlahnya banyak banget... very amazing..!!!

Kita sampai di Parapat sekitar jam 15.30. Check in di hotel Niagara, Parapat. Ternyata Hotel ini letaknya agak naik ke Bukit, bukan pas di tepian Danau Toba. Jadi kalau mau ke Danau Toba, kita harus naik mobil lagi ke bawah. Tapi hotelnya sih oke, tamannya bagus banget, kebetulan aku dapat kamar yang garden view.

ini view dari kamar hotel Niagara, Parapat.

Karena penasaran kepengen lihat dari deket Danau Toba-nya, sore itu juga kita ke tepian danau (harus pake mobil lagi, lumayan jauh juga ternyata, ga bisa kalau jalan kaki pasti gempor). Sekalian cari makan, soalnya udah mulai lapar lagi :D

Di pinggiran danau, kesan pertama yang langsung melintas di otak sih : "ternyata cuma gini aja toh, Danau Toba?? Jauh-jauh terbang dari Bandung kok cuma gini sih???" Tapi kesan pertama bisa aja salah kan?? Karena emang udah terlalu sore, di tambah cuaca juga ga mendukung, gelap dan mendung.


Tadinya kita mau langsung cari makan aja, tapi anak-anak rewel karena mereka liat ada perahu bebek lagi muter-muter, mereka pada kepengen naik perahu bebeknya. Kaya perahu bebek yang di gowes itu loh, tapi yang ini ga pake di gowes, udah pake mesin soalnya.  
Sudah dapat firasat sebetulnya, lihat langit yang gelap dan mendung, bakalan turun hujan. Bener aja, pas naik perahu bebek itu, pertamanya sih gerimis kecil, lama-lama makin besar dan akhirnya hujan deras banget. Memang sih perahu bebeknya ga terbuka, ada tutup dari terpal, tapi karena hujannya deras ditambah angin kencang, celana yang di pakai jadi basah kuyup.




Ga berhasil foto di perahu bebeknya, soalnya perahunya goyang-goyang terus, jadi pada burem deh fotonya. Tapi berhasil dapat foto rumah peristirahatannya Presiden Soekarno (kata tukang perahu). Walaupun ga terlalu jelas juga fotonya :D


Menu makan malamnya?? Makanan khas minang lagi... Sepanjang jalan utama itu berjejer rumah makan, dan hampir semuanya rumah makan khas Minang. Jadi yah, terpaksa lah kita makan menu minang lagi. Dengan kondisi celana basah kuyup pula kita masuk rumah makan. Agak beda sih sebetulnya jenis masakannya. Ada yang khas nih, ikan pora-pora, ikan yang ada di danau toba, ga akan nemu di mana-mana. Rasanya sih seperti ikan pada umumnya deh.. Ga terlalu bisa ngebedain rasa ikan soalnya :p


Satu lagi yang ga ada di Bandung, mangga udang..!! 
Pas jalan pulang ke hotel, kita ngeliat banyak yang jualan buah di pinggir jalan. Buahnya kecil-kecil, masih gedean kepalan tangan aku  kalau dibandingin. Kata driver kita, itu mangga udang namanya. Penasaran, kita beli 2 kg tuh mangganya. Ternyata rasanya enak juga, manis, agak berserat dikit. Beda rasanya kalau dibandingin sama mangga harumanis, atau mangga gincu, atau mangga kweni.


ini nih yang namanya mangga udang....






April 22nd, 2011

Breakfast di hotel, menunya standard (jangan berharap terlalu tinggi). Nasi goreng, mie goreng, kopi, teh, roti panggang, seperti itu deh. 
Malam sebelumnya sudah beres2 koper, biar ga repot, soalnya pagi-pagi habis breakfast mau langsung ke Samosir :)


Selesai breakfast-nya..!!! Langsung deh...
Kita ke tempat yang kemarin sore naik perahu bebek. Di sana kita sewa speedboat buat ke Samosir. Kesan kedua ternyata beda dari kesan pertama. Karena hari masih pagi, matahari bersinar cerah, Danau Toba kelihatan indah banget. Very beautiful....
Membelah Danau Toba menggunakan speedboat benar-benar membuat kita merasa kecil sekali. Danau yang luar biasa besarnya, dengan bukit-bukit di sekeliling, rasanya susah untuk diungkapkan dengan kata-kata.





 anak-anak samosir

Mereka minta uang logam di lempar ke danau, terus mereka mau nyelam ambil uang logamnya. Tapi karena setelah dicari-cari ga nemu uang logam, akhirnya kita kasih uang kertas pecahan besar untuk dibagi-bagi 









Dari tempat kita naik speedboat, kita di ajak puter-puter Danau Toba sebentar, ada beberapa spot yang ada legendanya, tapi aku juga ga terlalu menyimak karena ga kedengeran, suara si abang tukang perahu waktu cerita saingan sama suara mesin speedboat.


Akhirnya kita turun di Tomok. Biasanya wisatawan yang ga nginep di Samosir turun di situ, terus jalan kaki liat-liat beberapa tempat bersejarah seperti kuburan batu para Raja jaman dulu, terus ada rumah adat Batak Toba, ada patung anak Sigale-gale (ada ceritanya juga nih), ada museumnya juga. Sepanjang jalan banyak yang jual souvenir khas Batak. Begitu speedboat merapat, sudah ada guide yang menyambut, dan menawarkan jasa untuk mengantar berkeliling. Dia tidak menentukan tarif, alias kita bisa memberi sesuai kerelaan kita.



 tukang souvenir di sepanjang jalan

 

 berfoto di makam raja-raja jaman dulu kala (harus pake ulos)
 

ini rumah adat Batak Toba




 pakai baju adat Batak Toba.. :D




Di sebelahku itu dia patung anak Sigale-gale. Konon patungnya di buat untuk menggantikan anak Raja yang meninggal. Pada awalnya patung itu diisi oleh roh anak tersebut sehingga bisa menari sendiri. Tapi sekarang patungnya digerakkan oleh tali.

Keliling di Tomok nggak terlalu lama, kecuali kalau kita mau ke lokasi lain selain Tomok, dan tempatnya jauh, harus menggunakan kendaraan. Tapi karena pertimbangan kita masih harus melanjutkan perjalanan ke Medan, maka kunjungan ke Samosir selesai sudah. Kita kembali menggunakan speedboat yang sama.

Setelah check out hotel, kita pun segera berangkat menuju Medan. Rute kali ini melewati Brastagi, dengan dua kali singgah di dua lokasi, air terjun Sipiso-piso, lalu Taman Simalem Resort. Awalnya kita berencana juga untuk singgah di Brastagi, cuma untuk melihat pemandangan, mungkin semacam daerah Puncak di Jawa Barat. Tapi karena hujan deras ketika kita masuk daerah Brastagi, maka acara melihat pemandangannya dibatalkan.

air terjun Sipiso-piso


 view Danau Toba dari lokasi air terjun Sipiso-piso


anakku dimana-mana jajan melulu


di Taman Simalem Resort

Taman Simalem Resort ini jadi tempat kita makan siang, karena sepanjang jalan yang dilewati makanan khas minang masih mendominasi, selain rumah makan kecil yang menyediakan makanan khas Batak. Sedikit bocoran, gado-gado di kafe Taman Simalem rasanya top. High recommended..!!!

Ada bagusnya juga turun hujan waktu melewati Brastagi. Jadi kita ga sempat mampir, soalnya sisa perjalanan ke Medan benar-benar merayap, karena macet akibat longsor. Coba kalau di Brastagi kita berlama-lama, mungkin baru sampai di Medan tengah malam. Dengan tidak mampir di Brastagi pun kita baru sampai di Medan sekitar jam 8 malam. Setelah check in hotel, langsung menuju kamar untuk istirahat (rencana awalnya sih begitu...).
Tapi begitu sampai kamar, suamiku mulai bicara tentang durian Ucok yang terkenal itu. Dan pergilah kita makan durian. Naik taksi dari depan hotel,karena rental mobil sudah selesai sampai driver mengantar kita ke hotel. Untungnya Grand Swiss Belhotel, tempat kita menginap, letaknya di pusat kota, mau kemana-mana dekat, ga pake lama. Mau naik taksi atau naik bentor pun oke.

Sampai ke durian Ucok, ternyata duriannya habis (katanya). Sempet bingung juga, karena aku lihat durian masih bertumpuk-tumpuk kok dibilang habis. Kecewa deh... 
Tapi begitu si abangnya tau kita datang dari Bandung, duriannya gak jadi habis, masih ada katanya :D Mungkin dia kasihan sama kita jauh-jauh datang tapi ga bisa makan duriannya. 
Terakhir, aku baru tau, karena si abangnya cerita, dia ga yakin duriannya manis, makanya dia ga mau jual duriannya. 
Kita beli 3 durian, salah satunya ada yang ga manis, nahhh, durian yang ga manis itu ga usah dibayar lohh,,, Hebat banget ga sih??? Aku pesan durian juga buat di bawa ke Bandung jadi oleh-oleh, dan duriannya 100% oke, semuanya top. 


duriannya top banget..!!!



April 23rd, 2011
Hari bermalas-malasan.
Bangun tidur kesiangan, breakfast pun kesiangan, nyaris jadi tamu yang terakhir (ternyata masih ada pula yang lebih kesiangan).
Selesai breakfast, masuk kamar lagi, malas-malasan lagi, bingung ga ada tujuan mau kemana soalnya. Akhirnya kita menuju ke kolam renang hotel, karena anak-anak ribut minta berenang. 
Kolam renangnya betul-betul unik, mirip aquarium, karena tembus pandang ke luar. 



Acara dilanjutkan jalan-jalan ke Sun Plaza, salah satu mall besar di Medan. Sebetulnya sih Grand Swiss Belhotel berada satu gedung dengan Cambridge Mall, tinggal turun ke lobby, ada pintu tembus langsung ke dalam mall nya. Tapi penasaran juga kepengen keluar komplek hotel, lagipula Sun Plaza ga terlalu jauh juga jaraknya dari hotel. Sekalian mau cari makan siang di sana.
Dari hotel, seperti biasa kita naik taxi. Masalah baru timbul waktu pulang, kita keliling-keliling mall cari taxi stand. Begitu ketemu taxi stand nya, gak ada satu pun taxi di situ. Waktu kita tanya sama si abang petugas taxi stand, katanya gak bisa dipastikan kapan taxi nya datang.. (nahh lohhhh...)
Karena udah kecapean juga keliling-keliling Sun Plaza sambil ga berhasil dapat taksi, akhirnya kita keluar mall dengan harapan nemu taksi di jalan. Tapi apa daya, yang banyak ternyata bentor (becak yang pake motor di sampingnya). 
Dipikir-pikir sih, kayanya asik juga naik bentor, dan memang beneran asik lohh, apalagi si abang tukang  bentornya banyak cerita tentang lokasi-lokasi di Medan. Sepertinya dia berbakat jadi tour guide (atau terobsesi jadi tour guide??).
Dari rencana awal kita mau balik langsung ke hotel, malahan melenceng ke tempat bika ambon dan bolu gulung meranti, belanja dulu buat oleh-oleh. Malahan si abang bentor langsung di booking buat jalan-jalan malem keliling Medan cari makanan, janjian di depan hotel jam 7 malem. :D

Jam 7 malem kita keluar hotel, dan si abang bentor sudah stand by di bentornya. Begitu ngelihat kita, dia langsung menyambut (hahaha.. kaya pejabat aja disambut)

Tujuan pertama, cari Babi Panggang Karo (BPK). Suamiku terobsesi kepengen nyoba gimana rasanya BPK. Apalagi setelah dengar promosinya si abang bentor tadi siang. Si abang bilang BPK itu enak banget, beda cara masaknya sama babi panggang biasa, itu ciri khasnya orang Karo (kata si abang).
Cari BPK itu lumayan jauh, bukan di pusat kota soalnya. Kata si abang, ada daerah dimana kebanyakan orang Karo yang tinggal di situ. Dan rumah makan BPK kebanyakan ada di daerah itu (sorry, aku lupa nama daerahnya), yang aku ingat sih kita jalan sepanjang jalan Jamin Ginting, ke arah luar kota. Setelah nemu, BPK nya malah di bungkus, karena kita masih mau wisata kuliner ke jalan Semarang.
Nahh, di jalan Semarang ini, mirip-mirip food street di Singapore. Tukang makanan tumpah ruah sampai ke tengah jalan. Masih ada sisa satu lajur untuk mobil, walaupun jarang banget mobil yang lewat, karena sempit, malah beresiko nabrak gerobak makanan deh.

keliling-keliling naik bentor


suasana di Jl. Semarang

Selesai makan, balik ke hotel dengan kekenyangan (BPK yang dibungkus malah belum di sentuh sama sekali, dan memang akhirnya tidak disentuh karena sudah ga ada yang sanggup makan lagi... wasting banget yaa???)
Suamiku baik banget ngebungkusin makanan buat si abang bentor, di tambah tips yang lumayan. :) tapi rela kok, soalnya emang si abangnya juga baik.
Sampai hotel mulai packing lagi, siap-siap buat pulang, dapat flight pagi juga. Terpaksa minta breakfast di take away, takut jadi terburu-buru kalau kelewat mepet waktunya.
Selesai sudah acara keliling Medan, ternyata nggak terlalu buruklah, sebagai kota yang bukan tujuan wisata. :)